Digging4Data Toolkit Bahasa Indonesia

Dalam satu dekade terakhir ini semakin banyak profesional Indonesia terlibat dalam kajian peninggalan bangunan/struktur bersejarah di kawasan bersejarah pusat kota di Indonesia. Pusat kegiatan ekonomi kota-kota tersebut telah bergeser dari awalnya di pusat kota tua ke bagian kota yang baru. Bangunan kosong dan ruang publik yang telah ditinggalkan tersebut membutuhkan alokasi fungsi baru untuk pengembangannya. Pembangunan berbasis peninggalan bersejarah di kawasan bersejarah pusat kota membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang sejarah bangunan dan tata ruang wilayah kota. Oleh karena itu sangat penting untuk mengumpulkan dan menganalisis data historis guna mengintegrasikan faktor-faktor ini ke dalam proses perencanaan.

Pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2014, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyelenggarakan lokakarya 'Collecting and Connecting: Historical Data for Inner City Development'. Dikaitkan dengan kesadaran yang kiantumbuh di Indonesia akan manfaat menggabungkan konservasi tinggalan bersejarah dan pembangunanperkotaan, lokakarya tersebut bertujuan untuk
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.Pada kenyataannya, sebagaimana diperlihatkan oleh para profesional dari lembaga pemerintah, LSM. danperguruan tinggi di Indonesia, pengetahuan tentang cara mengumpulkan dan mengelola data historis masih kurang. Tentunya, lokakarya tersebut hanya membahas beberapa langkah awal dan bukan membahas solusi
akhir. Selama evaluasi lokakarya, para pesertanmengisyaratkan perlunya panduan untuk mendukung para profesional dalam melakukan penelitian arsip demi pelestarian tinggalan bersejarah dan revitalisasi pusat kota. Pada saat inilah lahir panduan itu: Digging4Data: How to do research on the built environment in Indonesia, 1620-1950.

Publikasi ini adalah panduan praktis yang menjelaskan cara mengumpulkan dan mengelola data historis. Tujuannya adalah untuk mendukung penelitian tentang lingkungan terbangun: bangunan, tata ruang wilayah kota, lanskap, infrastruktur, arsitektur taman, dan interior. Panduan ini memusatkan perhatian terhadap keterampilan melakukan penelitian mengenai bangunan
peninggalan bersejarah dan perencanaan lingkungan yang dilakukan selama kehadiran Belanda di Indonesia, kira-kira dari 1620 sampai 1950, mulai dari bangunanbangunan VOC (Perusahaan Dagang Hindia-Belanda) sampai dengan tata ruang wilayah kota modern 1940-an. Dan meskipun munculnya panduan ini menjawab kebutuhan yang pernah diungkapkan oleh para arsitek,
perencana kota, dan pejabat pemerintah, hal ini dimaksudkan untuk semua orang yang tertarik dengan jenis penelitian semacam ini.

Panduan ini merupakan hasil dari kolaborasi intensif antara para peneliti dan sejumlah lembaga di Indonesia dan Belanda: Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia (Nadia Purwestri) bekerja sama erat dengan Lembaga Warisan Kebudayaan Belanda (Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed: Jean-Paul Corten, Jinna Smit), Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief: Johan van Langen, Frans van Dijk), Heritage Hands On (Hasti Tarekat) dan para pakar: Huib Akihary dan Pauline K.M. van
Roosmalen. Kebijakan Warisan Budaya Bersama Pemerintah Belanda juga berperan penting, menyediakan kerangka kerja dan pendanaan untuk pelestarian warisan bersama Belanda dengan beberapa negara mitra secara berkelanjutan. Indonesia dan
Belanda telah berhasil berkolaborasi dalam kerangka kerja sama ini sejak tahun 2009. Digging4Data ditulis oleh tiga penulis. Pauline K.M. van Roosmalen dan Huib Akihary yang merupakan sejarawan arsitektur dari Belanda, penulis, dan ahli di bidang arsitektur kolonial dan tata ruang wilayah kota di Indonesia. Selama lokakarya ‘Collecting and Connecting: Historical Data for Inner City Development’, pendekatan bertahap dan langsung tentang bagaimana melakukan
penelitian mengenai lingkungan terbangun sangat dihargai oleh para peserta. Melalui panduan ini, mereka berbagi pengalaman mereka dengan masyarakat luas. Penulis ketiga adalah Nadia Purwestri, yang telah terlibat dalam berbagai proyek peninggalan arsitektur bersejarah. Berdasarkan pengalamannya dengan konservasi tinggalan sejarah dan keterlibatannya dalam tata ruang
wilayah kota di Indonesia, ia memastikan bahwa panduan ini akan memenuhi kebutuhan para peneliti di Indonesia.

UNDUHAN BERKAS