:: DETIL DOKUMEN

Warisan budaya : Angklung dan batik Indonesia dilaporkan ke Unesco
 
 
impresum
SL : SN, 2009.
Deskripsi
Sumber:
Suara Karya: Jumat, 21 Agustus 2009
Warisan budaya : Angklung dan batik Indonesia dilaporkan ke Unesco
Ami Herman
Subyek
20091111 Seni Budaya -- Indonesia
Isi:

Indonesia akan terus memperjuangkan seluruh potensi warisan budayanya untuk mendapat pengakuan dunia. Jika pengakuan sudah diperoleh, diharapkan tak akan ada lagi negara lain yang dengan begitu mudah memberi pengakuan sepihak atas potensi seni budaya Indonesia.

Malaysia dinilai telah mengakui beberapa warisan budaya Indonesia sebagai warisan budayanya. Selain Batik, yang dikenal sudah lama menjadi warisan budaya Indonesia, Malaysia juga dinilai mengakui keberadaan kesenian Reog dan beberapa tarian lain dari tanah Sumatera sebagai bagian dari seni budaya Malaysia.

Berkait dengan itu, Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Depbudpar, Tjetjep Suparman, dalam Jumpa Pers Simposium dan Workshop Inventarisasi dalam Rangka Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Hotel Alila, Pecenongan, Jakarta, Rabu (19/8), menjelaskan, saat ini sedikitnya sudah dua bentuk warisan budaya Indonesia yang dilaporkan ke Unesco untuk mendapatkan pengakuan dunia. Kedua warisan budaya itu adalah Batik dan Angklung. Bahkan, Indonesia sudah bersiap pula melaporkan Keris sebagai bagian warisan budaya Tanah Air.

"Malaysia juga punya batik, dan sudah pula melaporkan ke Unesco untuk mendapat pengakuan dunia. Tapi batik Indonesia yang proses pembuatannya menggunakan canting, jelas merupakan warisan budaya Indonesia. Proses pembuatan batik menggunakan canting ini hanya ada di Indonesia," ujar Tjetjep Suparman.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Arief Rahman, yang juga menjabat Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, menambahkan, hingga kini masih banyak bentuk-bentuk warisan budaya Indonesia yang belum diinventarisasi, sehingga sulit diberi perlindungan hukum. Agar masyarakat paham bagaimana memberdayakan potensi warisan budaya yang ada di daerahnya. Pemerintah (Depbudpar dan badan terkait lainnya) menggelar Simposium dan Workshop Mengenai Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kegiatan tersebut, menurut Tjetjep Suparman diikuti 150 perserta yang mewakili 33 provinsi di Tanah Air. Para peserta datang dari kalangan perguruan tinggi, media massa, serta stakeholder bidang kebudayaan.

Sedangkan pembicaranya, yaitu Dr Mukhlis Paeni (LSF), Iman Sucipto Umar (Yayasan Kadin Indonesia), Sri Hastanto (ISI Surakarta), Mr Masanori Nagaoka (Unesco), Ms Zhang Min (RRC), Mr Shigeyuki Miyata (Jepang), Mr Seoang-Yong Park (Korea), dan sejumlah pejabat terkait dari Depbudpar.

:: Artikel lainnya dari Kliping: Kliping Seni Budaya Indonesia


1 2 3 4 5 6 7 
No. Tanggal Judul Artikel
12009-10-09Salah kaprah paten budaya
22009-09-14Kekayaan budaya : TRIPS tak melindungi pengetahuan tradisional
32009-09-06Kearifan lokal, tradisi, dan kebudayaan
42009-09-02Pengembangan budaya tergantung daerah
52009-09-02Promosi budaya bisa mencegah klaim asing
62009-09-01Tari Pendet dan pengelolaan aset
72009-08-31Budaya bagi bangsa
82009-08-29Agenda besar kebudayaan
92009-08-26Mengapa Malaysia?
102009-08-21Warisan budaya : Angklung dan batik Indonesia dilaporkan ke Unesco