:: DETIL DOKUMEN

Material rumah tua Karawaci ditemukan
 
 
impresum
SL : SN, 2009.
Deskripsi
Sumber:
Kompas: 11 Februari 2009
Material rumah tua Karawaci ditemukan

Subyek
20091405 Bangunan Bersejarah -- Indonesia -- Banten -- Tangerang
Isi:

Mencegah Warga Tangerang dari Amnesia Sejarah

Keterangan gambar: Sejumlah aparat Pemerintah Kota Tangerang, Selasa (10/2), bersama Sekretaris Wilayah Daerah Kota Tangerang HM Harry Mulya Zein dan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata H Tabrani melihat kondisi bangunan rumah tua peninggalan Oey Djie San yang rusak berat, dipereteli dan dijual komponennya. Bangunan tua di Karawaci ini terletak di atas tanah sekitar 2 hektar.

Tangerang, Kompas - Setelah diberitakan media massa dalam dan luar negeri, serta dilakukan pencarian berhari-hari, material bangunan tua yang dibangun awal abad 18 di Karawaci, Kota Tangerang, akhirnya ditemukan kembali. Material antik itu berupa keramik lantai dan paseban terbuat dari jati.

”Keramik dan paseban ditemukan kembali di tempat terpisah. Keramik lantai ditemukan di Tomang, Jakarta, Minggu kemarin, sedangkan paseban yang terbuat dari kayu jati ditemukan di Bali,” kata Agus Siswanto yang sehari-hari menunggui rumah tua peninggalan tuan tanah Oey Djie San itu.

Penemuan material rumah tua tersebut diungkapkan Agus, Selasa (10/2), ketika menerima kunjungan Sekretaris Wilayah Daerah Kota Tangerang HM Harry Mulya Zein, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Tangerang H Tabrani, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

”Semua material yang ditemukan kembali itu sekarang disimpan Pak Candra, pembeli terakhir. Nanti akan dipasang lagi,” kata Agus.

Harry berpendapat, bangunan tua ini sudah seharusnya dilestarikan. Pemilik terakhir bisa tetap merawat bangunan ini walaupun dengan membuka restoran.

Hal senada dikatakan Tabrani. ”Peninggalan sejarah seperti bangunan tua ini bisa dimanfaatkan untuk wisata. Apalagi lokasinya di tepi Sungai Cisadane, bisa dilengkapi dengan wisata air,” tutur Tabrani.

Namun, sayangnya, kata Tabrani, sebagian bangunan sudah hancur dibongkar, terutama di bagian belakang. ”Meskipun demikian, bangunan masih bisa didandani dengan biaya yang besar,” tuturnya.

Rumah ini merupakan peninggalan tuan tanah terakhir yang masih tersisa di sekitar Jakarta. Bangunan tua itu mulai dibongkar dan dipereteli sekitar September 2008 atas suruhan ahli waris.

Bagian-bagian bangunannya telah dijual kepada pihak lain. Dua patung singa yang berada di samping paseban bagian belakang yang sudah dibongkar juga diangkut dan dijual kepada pihak lain. Seorang warga yang tinggal di kompleks rumah peninggalan Oey Djie San itu menuturkan, patung singa itu dibeli pihak lain untuk menghiasi bangunan sebuah kuil. Patung singa itu hingga kemarin belum ditemukan.

Tabrani yang menyusuri tepian Cisadane hingga Kedaung Watan, Selasa kemarin, seusai mengunjungi rumah tua di Karawaci, menemukan benda-benda kuno bekas alat produksi penggilingan tebu dan sepenggal bangunan.

Penelusuran tepian sungai itu dilakukan untuk mencari situs-situs peninggalan sejarah yang kemungkinan masih bisa diselamatkan dan dikonstruksi kembali.

Amnesia Sejarah

Ketika rumah tua Oey Djie San dipereteli dan pemerintah setempat belum bertindak, kemarahan muncul dari mana-mana, terutama dari kalangan yang peduli peninggalan sejarah.

Mereka merasa kasihan terhadap Kota Tangerang dan warganya yang terancam amnesia sejarah (menderita lupa ingatan terhadap sejarah) awal terbentuknya kota sendiri jika benda peninggalan sejarah di kota ini terus dimusnahkan.

”Tangerang akan amnesia sejarah jika bangunan ini hilang. Kondisi ini harus dihindari,” kata Yori Antar, arsitek dan fotografer yang hadir dalam sebuah pertemuan yang membahas persoalan rumah tua peninggalan Letnan China Oey Djie San yang sedang dalam proses ”mutilasi”.

Pertemuan yang berlangsung 10 Desember 2008 di Bakoel Koffie, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, itu diselenggarakan Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu). Pertemuan itu, antara lain, dihadiri Budi Lim (arsitek) yang kini menugaskan seorang anggota stafnya untuk mendata bangunan peninggalan Oey Djie San, Pia Alisyahbana (tokoh masyarakat yang peduli pelestarian budaya), dan Adolf Heuken (penulis buku Historical Sites of Jakarta).

Dalam pertemuan itu Walibatu berpendapat, dari sisi arsitektur, bangunan ini merupakan bagian jejak sejarah arsitektur di Indonesia.

”Rumah utama bergaya arsitektur China, sedangkan rumah lain bergaya indis, gabungan unsur Eropa dan tropis,” demikian keterangan pers yang dikeluarkan Walibatu seusai pertemuan.

Sementara itu, sejarawan Mona Lohanda dalam buku Kapiten China of Batavia 1837-1942 menjelaskan, rumah tua di Karawaci itu dibangun pada awal abad ke-18 oleh Letnan China Oey Djie San yang menguasai perkebunan di Karawaci, Cilongok. (nas)

:: JUMLAH EKSEMPLAR

No. No. Induk Dokumen Lokasi Status
Data kosong