:: DETIL DOKUMEN

[Angke] Berawal dari pembantaian warga Kampung Bebek
 
 
impresum
SL : SN, 2009.
Deskripsi
Sumber:
beritajakarta.com: Rabu, 26 Agustus 2009 12:44
http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=34862
[Angke] Berawal dari pembantaian warga Kampung Bebek

Subyek
20091520 Perumahan dan Permukiman -- Indonesia -- Jawa -- Jakarta -- Masa Kolonial
Isi:

Sebagian besar warga Jakarta tentu pernah menginjakkan kaki di Kelurahan Angke, Jakarta Barat. Tapi belum semua orang mengetahui kenapa dinamakan Kelurahan Angke. Konon, nama tersebut berasal dari sebuah peristiwa yang mengenaskan. Ya, sekitar tahun 1740, warga Tionghoa yang bermukim di kampung tersebut dibantai secara massal oleh Pemerintah Hindia-Belanda.

Aksi keji pemerintah kolonial ini didasarkan atas dakwaan tindakan makar yang dilakukan warga Tionghoa kala itu. Seperti dituturkan Indra Salim, salah satu warga keturunan Tionghoa. Sebelum berganti nama menjadi Kampung Angke dan kini Kelurahan Angke, sebuah kampung yang terletak di sebelah barat Kota Jakarta itu bernama Kampung Bebek. Dan penduduk Kampung Bebek mayoritas adalah warga Tionghoa.

Sebagaimana di negeri asalnya, para pelancong dari negeri tirai bambu itu beternak bebek. Sebab, hasilnya cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari hasil penjualan telur, daging bebek, hingga kotoran bebek untuk pupuk. "Disebut Kampung Bebek karena dulunya warga setempat banyak yang beternak bebek," kata Indra, warga keturunan Tionghoa Kampung Bebek/Angke yang bermukim di kawasan Glodok kepada beritajakarta.com, Rabu (26/8).

Kegigihan warga Tionghoa dalam berdagang dan menggerakkan roda perekonomian wilayah tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi Pemerintahan Hindia-Belanda. Maklumlah, sebagai warga kelas satu, bangsa Eropa kala itu tidak mau kalah dengan bangsa-bangsa lainnya, meski di negeri jajahan.

Rasa ketidaksukaan pemerintah kolonial di bawah kekuasaan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) itu diwujudkan dengan pengasingan wilayah tersebut. Dengan kata lain, wilayah Kampung Bebek tersebut tidak tersentuh pembangunan yang digencarkan Pemerintah Hindia-Belanda.

Lantaran diperlakukan tidak adil, warga Tionghoa pun akhirnya melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia-Belanda tahun 1740. Sayangnya, pertempuran yang pecah di Batavia (ibu kota pemerintah-red) ternyata akhir dari segalanya. Saat itu juga ribuan warga Tionghoa dipukul mundur dan dibantai habis-habisan oleh pemerintah kolonial. Lantas mayat-mayat warga Tionghoa tersebut diceburkan ke dalam sungai (kini Kali Angke-red).

Situasi mencekam itu, kontan saja membuat mayat-mayat warga Tionghoa yang diceburkan ke dalam sungai tak ada yang berani memakamkan. Hingga pada akhirnya mayat-mayat itu membusuk dan musnah terseret arus sungai dari waktu ke waktu. Lantaran banyak bangkai manusia di kawasan tersebut, warga Tionghoa yang tinggal di daerah lain menyebutnya Kampung Angke. Kata ini berasal dari bahasa China, yakni "Ang" yang berarti daerah/kampung dan "Ke" berarti Bangkai.

Di sisi lain, tokoh masyarakat setempat, Haji Musdaki, justru berpendapat berbeda. Ia menuturkan, asal usul nama "Angke" pada Kelurahan Angke sejatinya tidak ada sangkut pautnya dengan pembantaian warga Tionghoa di kawasan tersebut. Nama Angke, kata Haji Musdaki, diambil dari nama tokoh pejuang asal Banten, Tubagus Angke.

Saat perang gerilya dulu, Tubagus Angke menjadikan wilayah ini sebagai markas pergerakan. Tempatnya mulai dari Kampung Angke hingga Muara Kali Angke, yakni Muara Angke. Buktinya, kawasan-kawasan itu menggunakan nama berakhiran "Angke". Salah satu bukti peninggalan Tubagus Angke, yaitu Masjid Al Anwar, yang kini namanya diubah menjadi Masjid Angke. "Dari kali hingga muara inilah di mana Tubagus Angke meninggalkan jejak perlawanan terhadap Portugis bersama Kasultanan Demak. Makanya nama kampung hingga muara kali mendapat akhiran kata "Angke"," jelasnya.

Namun menurut Ahmad Fahrizin, warga Kelurahan Angke, sejatinya nama "Angke" pada Kelurahan Angke tidak lepas dari sejarah warga Tionghoa di kawasan itu. Kala itu, perkampungan Tionghoa di Kampung Bebek berada di tengah hutan. Entah ada hubunganya dengan peristiwa pembantaian atau tidak, yang jelas jalan setapak yang menuju perkampungan itu dikenal sangat Angker. Lantaran lidah etnis Tionghoa sulit menyebut huruf "R", maka mereka sering menyebutkan Angke dan kemudian dikenal oleh warga sekitar sebagai Kampung Angke.

"Dulunya di perkampungan itu hanya ada satu jalan setapak untuk berhubungan dengan dunia luar. Dan jalan setapak itu terkenal sangat angker, banyak makhluk halusnya (setan-red). Termasuk warga Tionghoa di kawasan itu juga sering diganggu. Dan warga Tionghoa sering mengucapkan kata `Angke` saat membicarakan jalan setapak itu. Jadi disebutlah Kampung Angke" ungkap Ahmad.

Sementara menurut Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, kata "Angke" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "Kali yang dalam". Namun, ia menegaskan, sejauh ini sejarah belum mencatat secara resmi asal muasal nama Kampung Angke tersebut. Kendati demikian, ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk bersikap bijak terhadap seluruh cerita yang berkembang di masyarakat, meski dalam versi yang berbeda. Sebab, seluruh cerita rakyat itu bertujuan mengharumkan nama Kampung
Angke.
Reporter: didit

:: JUMLAH EKSEMPLAR

No. No. Induk Dokumen Lokasi Status
Data kosong