:: DETIL DOKUMEN

Transportasi trans-Papua Merauke - Tanah Merah rusak berat
 
 
impresum
SL : SN, 2007.
Deskripsi
Sumber:
Kompas: Rabu, 19 Desember 2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/19/daerah/4091811.htm
Transportasi trans-Papua Merauke - Tanah Merah rusak berat

Subyek
20091416 Transportasi -- Indonesia -- Papua
Isi:

Merauke, Kompas - Jalan Raya Trans-Papua yang menghubungkan Merauke, ibu kota Kabupaten Merauke, dengan Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digul, rusak berat. Buruknya kondisi jalan membuat perekonomian rakyat tak berkembang.

Perjalanan dari Merauke menuju Boven Digul ditempuh melalui Taman Nasional Wasur, Sota, Bupul, Ulilin, dan Asiki. Kondisi jalan yang buruk mulai dirasakan pada ruas Jalan Sota-Bupul. Aspal di ruas Jalan Sota, Bupul, Ulilin, dan Asiki banyak yang terkelupas. Badan jalan hancur, dengan ratusan lubang berdiameter 0,5-3 meter.

Senin (17/12) dini hari terjadi hujan di Distrik Elikobel dan Muting, sehingga pada Senin pagi ruas Jalan Bupul, Ulilin, dan Asiki penuh kubangan lumpur yang panjangnya mencapai 15 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Dalam kondisi ini angkutan umum dan sepeda motor masih bisa jalan.

Jika hujan turun lebih lama, kubangan lumpur lebih parah sehingga kendaraan medan berat maupun truk sulit melintasi. Jika hujan turun lebih dari satu hari, maka rute perjalanan Merauke- Tanah Merah terputus. Jika dipaksakan, perjalanan darat dari Merauke menuju Tanah Merah bisa memakan waktu enam hari.

Kondisi itu membuat perekonomian rakyat di wilayah perbatasan kedua kabupaten tidak berkembang. Ongkos transportasi dari Merauke ke Tanah Merah menjadi mahal. Di Distrik Muting, perbatasan Kabupaten Merauke-Boven Digul, para transmigran mengeluh karena tidak bisa membawa hasil bumi mereka ke Merauke.

"Saya memiliki kebun rambutan, tetapi kesulitan menjual buahnya. Biaya angkutan umum Rp 4 juta. Sekali jalan bisa mengangkut 800 kg rambutan, harga di Merauke Rp 10.000-Rp 15.000 per kg. Masalahnya, kondisi jalan yang rusak seringkali membuat mobil terjebak lumpur dan rambutan membusuk dalam perjalanan," kata transmigran di Kampung Muting II Munandar.

Munandar juga mengeluh hasil panen sawitnya belum pernah laku. "Kami menanam sawit pada 1997, dan mulai panen pada 2002. Tetapi sawit yang harganya Rp 600 per kg tidak bisa dibawa ke pabrik di Distrik Asiki, Kabupaten Boven Digul, karena jalanan rusak dan biaya angkut mahal. Selama ini kami hanya memetik dan menaruh di bawah pohon," kata Munandar.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Muting Frans Mahuse menuturkan, penduduk Distrik Muting memiliki kebun karet dan pisang. Namun juga sulit dijual.

Menurut Mahuse, jalan rusak membuat warga Distrik Elikobel, Muting, dan Ulilin hidup dalam keterbatasan. "Guru harus mengambil gaji ke bank di Merauke. Setiap ambil gaji, mereka baru balik mengajar setelah satu bulan di kota. Kondisi seperti itu merugikan kami," katanya. (row)

:: JUMLAH EKSEMPLAR

No. No. Induk Dokumen Lokasi Status
Data kosong