:: DETIL DOKUMEN

Buddha bar jadi pusat kegiatan budaya
 
 
impresum
SL : SN, 2009.
Deskripsi
Sumber:
beritajakarta.com: 14 Agustus 2009 00:09
http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=34794
Buddha bar jadi pusat kegiatan budaya

Subyek
20091642 Bangunan Bersejarah -- Indonesia -- Jawa -- Jakarta
Isi:

Mengembalikan fungsi bangunan bersejarah seperti sediakala memang tidak mudah. Seperti halnya mengembalikan fungsi bangunan eks Kantor Imigrasi di Jl Teuku Umar Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi pusat kegiatan budaya di ibu kota. Untuk itu, perlu sebuah terobosan baru sehingga kemasanya lebih menarik. Karenanya, sebelum menjadi sekretariat Forum Kebudayaan Indonesia (FKI), bangunan tersebut terlebih dulu difungsikan sebagai Restoran Buddha Bar. Dengan kemasan kombinasi tersebut diyakini kegiatan budaya di Indonesia, termasuk DKI Jakarta, akan lebih maju.

Setelah Sekretariat FKI diresmikan, nantinya para budayawaan, pecinta, dan penggiat budaya dapat berkumpul untuk berdiskusi dan membahas nilai-nilai budaya di restoran Buddha Bar. Selain itu, para budayawan juga bisa menggelar pameran kebudayaan mulai dari pameran lukisan, songket, kesenian budaya, hingga kreativitas budaya lainnya.

Djan Faridz, selaku pemilik Restoran Buddha Bar, menjelaskan, penggabungan sekretariat dengan restoran merupakan upaya untuk mengembalikan gedung bersejarah ini kepada fungsinya semula saat dibangun pada tahun 1913. "Saat merenovasi gedung ini, cita-cita saya ingin mengembalikan fungsi gedung ini seperti pada tahun 1913 yaitu sebagai tempat pusat kegiatan budaya yang bersejarah," kata Djan Faridz, saat acara peresmian kantor Sekretariat FKI di Restoran Buddha Bar, Kamis (13/8) malam.

Mengapa harus digabung? Sebab, jika hanya diperuntukan sebagai pusat kebudayaan saja dikhawatirkan tidak akan menarik para pecinta budaya untuk datang berdiskusi maupun berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan. Sehingga diperlukan campuran antara unsur komersil dengan sejarah budaya.

"Kalau cuma murni dikembalikan ke budaya tanpa unsur komersial, tentu akan berat sekali. Sebab, mengundang orang mau terlibat dalam kegiatan kebudayaan tidak mudah," kata Djan Faridz. "Jadi kalau digabung dengan restoran sebagai unsur komersial, kebudayaan lebih mudah dipopulerkan," sambungnya.

Mengenai kegiatan kebudayaan yang akan dituangkan dalam even-even kebudayaan, Djan Faridz belum bisa memberikan gambarannya. Sebab, saat ini FKI tengah menginventarisasi kegiatan apa saja yang akan digelar. Namun setidaknya, Restoran Buddha Bar dapat dijadikan tempat pameran lukisan bersejarah dan diskusi mengenai perbaikan candi-candi.

Ketua FKI, Luluk Sumiarso, menegaskan, pada intinya FKI didirikan untuk menghimpun semua potensi budaya bangsa yang selama ini sudah banyak dituangkan dalam kegiatan-kegiatan. Selain itu, juga untuk memadukan dan mensinergikan langkah dalam menyusun visi bersama dan agenda budaya Indonesia. "FKI sudah dibentuk pada 5 Juli 2008 dalam acara sarasehan budaya di auditorium RRI yang disepakati 38 penggiat budaya atau organisasi budaya. Sebelumnya, FKI berkantor di Wisma Batavia. Lalu kami pindah kantor ke Restoran Buddha Bar. Ini kehormatan bagi kami," kata Luluk.

Harapan ke depan, forum ini bisa dikembangkan semacam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Sehingga menjadi Komite Kebudayaan Nasional Indonesia (KKNI). Dengan begitu diharapkan nilai-nilai budaya Indonesia bisa menjadi panglima perang dalam membangun peradaban di negara ini.

Seperti diketahui, awalnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI merasa bertanggung jawab dengan gedung eks kantor Imigrasi DKI Jakarta yang mengalami kerusakan dan ornamennya banyak yang hilang dicuri orang. Karena itu, pada tahun 2002, dengan tujuan menyelamatkan heritage warga Jakarta, Pemprov DKI membeli gedung itu dari sebuah perusahaan swasta senilai Rp 28 miliar.

Kemudian pada tahun 2003, Pemprov DKI melakukan perencanaan konservasi agar gedung tampak seperti aslinya. Setelah itu, selama tahun 2004-2006, dilakukan konservasi bangunan dengan memasukkan kusen dan ornamen yang ada. Semuanya menghabiskan anggaran Rp 5,1 miliar yang diambil dari APBD DKI secara bertahap dari tahun 2003-2006. Akhir tahun 2006, konservasi selesai dan dilaporkan ke Gubernur DKI pada waktu itu, yaitu Sutiyoso. Lalu pada awal 2007 sudah mulai ditentukan pemanfaatan gedung melalui sayembara. Pemenangnya, yakni PT Nerita Vista Creative yang saat ini mengelola Restoran Buddha Bar.

Reporter: lenny

:: JUMLAH EKSEMPLAR

No. No. Induk Dokumen Lokasi Status
Data kosong