:: DETIL DOKUMEN

"Plesiran tempo doeloe" kian diminati
 
 
impresum
SL : SN, 2004.
Deskripsi
Sumber:
Kompas: Senin, 26 Januari 2004
"Plesiran tempo doeloe" kian diminati

Subyek
20091471 Geografi dan Pariwisata -- Indonesia -- Jawa -- Jakarta
Isi:

Jakarta, Kompas - Masyarakat Jakarta dan wisatawan mancanegara kian berminat mengetahui lebih dalam tentang bangunan-bangunan lama peninggalan sejarah perkembangan Jakarta. Setidaknya itu tampak pada tingginya antusiasme warga Jakarta dan wisatawan asing mengikuti perjalanan wisata mengunjungi kompleks bangunan lama di sekitar Passer Baroe, Jakarta Pusat, yang diadakan Yayasan Sahabat Museum, Minggu (25/1).

Jumlah peserta perjalanan wisata ini hampir mencapai 500 orang atau sekitar dua kali lipat dari perkiraan panitia, sehingga perjalanan sempat tertunda 30 menit.

Dalam perjalanan wisata mengenal Jakarta Lama kemarin, peserta diajak menyusuri kembali perkembangan Kota Jakarta yang mengadopsi berbagai macam gaya seni bangunan. Kompleks Passer Baroe dianggap sebagai salah satu lokasi yang menarik karena banyak mempunyai bangunan lama bercorak bangunan tradisional Cina, Eropa, hingga perpaduan antara keduanya dengan corak bangunan asli Indonesia yang disebut bangunan Indis.

Perjalanan diawali dari Kantor Pos Filateli yang bergaya art deco. Bangunan ini belum pernah berubah fungsi sejak resmi didirikan tahun 1912-1929. Kemudian peserta diajak menuju Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Gedung yang hampir berumur 200 tahun ini memang dibangun sebagai pusat aktivitas kesenian oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu pemandu perjalanan yang juga Ketua Panitia Perjalanan Wisata Ade Purnama mengatakan, sekilas GKJ seperti bangunan Eropa, tetapi sebenarnya banyak dipengaruhi budaya Cina, terutama ornamen hiasannya.

Bangunan bergaya tradisional Cina juga banyak ditemui di dalam Kompleks Passer Baroe. Beberapa bangunan milik usahawan Tionghoa terkenal masa awal abad ke-20, Tio Tek Hong, masih dapat ditemui sampai saat ini.

Peninggalan usahawan besar itu, antara lain Restoran Tropic yang terkenal dengan ice cream-nya, bekas toko senapan yang sekarang telah beralih fungsi menjadi toko pakaian, dan bekas toko alat musik yang saat ini menjadi toko buku.

Jusni Hilwan, salah seorang keturunan Tio Tek Hong yang ikut sebagai peserta, mengisahkan kenangan masa kecilnya hidup di kawasan Passer Baroe. "Menyenangkan melihat kawasan ini lagi yang pernah saya tinggali selama 30 tahun. Beberapa bangunan, seperti Toko Kompak, masih seperti aslinya dulu. Akan tetapi, lainnya sudah berubah sama sekali," katanya.

Jusni lahir dan tumbuh di kawasan ini tahun 1947-1978, sebelum akhirnya hijrah dan menjadi warga negara Toronto, Kanada. (k08)

:: Artikel lainnya dari Kliping: Kliping Batavia


 awal ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ... akhir 
No. Tanggal Judul Artikel
12009-12-05Materialistis dan miskin budaya, warisan kolonial
22009-09-12Air Belanda, apa itu?
32009-09-10Kawasan Veteran dan Juanda di abad 19
42009-09-10Keluarga Dossol dan Masjid Jami Kebon Jeruk
52009-09-07Menara sejarah maritim miring : Mendesak, konservasi untuk Museum Bahari
62009-09-03Tiga gempa hebat yang goyang Batavia
72009-09-01Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen setelah 274 tahun
82009-08-311925 Batavia sudah dijejali mobil
92009-08-29Pasar Gambir puluhan tahun lalu
102009-08-27Lunturnya tradisi motong kebo andilan