:: DETIL DOKUMEN

"Mengusik" ke-(tidak)-pedulian warga pada pesona "Kota Tua"
 
 
impresum
SL : SN, 2005.
Deskripsi
Dalam:
Kompas, Selasa, 13 September 2005
"Mengusik" ke-(tidak)-pedulian warga pada pesona "Kota Tua"
FX Triyas Hadi Prihantoro
Subyek
20091491 Bangunan Bersejarah -- Indonesia -- Jawa -- Jakarta
Isi:

Kegiatan festival kesenian kota tua dan pecinan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jakarta Barat bulan Agustus 2005 perlu dilestarikan dan diberdayakan. Pemberdayaan, pengoptimalan, penggalian, dan restorasi kawasan kota tua (Batavia) Jakarta perlu dilakukan guna ”mengusik” ke-(tidak)-pedulian stakeholders kota dengan ”menggelitik” mereka untuk selalu terlibat di dalamnya.

Kegiatan itu bertujuan untuk menumbuhkan empati dan menjaga peninggalan sejarah sebagai nilai budaya dan pengetahuan terbentuknya kawasan kota tua.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 Ayat (1), disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagian atau sisa-sisanya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun dan mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bagaimana upaya ”memoles” kawasan kuno ini agar tidak seram? Bagaimana dapat menarik untuk dinikmati hingga banyak orang sudi berlama-lama di sana? Upaya pengadaan festival, berkesenian, pameran/kegiatan saja belumlah cukup. Yang dibutuhkan adalah hati semua warga Kota Jakarta untuk terusik sehingga merasa memiliki peninggalan sejarah ini.

Rasa memiliki tumbuh, niat mempertahankan ada, upaya mengembangkan sudah masuk rencana kemudian tinggal optimalisasi pemberdayaan dengan berbagai program.

Ketidakpedulian warga kota terhadap bangunan kota tua terlihat dari banyaknya bangunan yang tak terawat. Kondisi bangunan memprihatinkan; tembok mengelupas, berlubang, kayunya lapuk, dan genting bocor.

Belum lagi digusurnya beberapa bangunan tua (gedung Harmonie) hanya untuk ”memoles” pembangunan ”masa depan” demi kepentingan ekonomi/komersial semata. Bila demikian, tidak malukah kita dengan bangsa lain yang ”berani” bersatu padu melawan untuk mempertahankan bangunan kuno (heritage building) sebagai salah satu bentuk lahirnya heritage society yang memiliki bobot nilai budaya sejarah bangsa tersendiri.

Ratusan bangunan kawasan tua di Kota Jakarta butuh sikap peduli warga. Wisatawan asing datang ke Jakarta perlu untuk melihat sajian bangunan gaya art nouvo (Museum Fatahillah dan Museum Wayang) abad ke-18, art deco (Bank Exim Jakarta Kota, Museum Seni Rupa Jakarta, Stasiun Kota) awal abad ke-19 serta tembok kasar dari abad ke-16 sisa warisan kejayaan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

Sekarang bagaimana sikap peduli warga kota terhadap perjalanan sejarah budaya di pesona kawasan kota tua Jakarta? Meski banyak bangunan kota tua yang sebagian besar milik perseorangan yang berkekuatan hukum, tidak ada salahnya pihak Pemprov DKI membuat peraturan daerah tentang pelestarian dan pemberdayaan bangunan tua bersejarah berdasarkan pengkajian dari banyak segi, antara lain arsitektur, sosial, sejarah, budaya, tata kota, lingkungan, dan kepentingan.

Ruilslag bangunan dan pemberian penghargaan kepada pemilik bangunan bersejarah yang mampu mempertahankan keasliannya perlu diberikan. Juga perlu hukuman bila pemilik atau siapa pun melakukan perusakan, corat-coret, dan penelantaran terhadap bangunan tua yang bernilai sejarah budaya.

Sejalan dengan visi Jakarta dalam upaya mengoptimalkan kunjungan wisata, langkah-langkah kepedulian terhadap pesona ”kota tua” merupakan impian semua pihak. Pengembangan wisata budaya dengan ”menjual” pesona ”kota tua” menjadikan aset sejarah itu sebagai aset wisata yang potensial untuk menambah pendapatan asli daerah.

Misalnya saja, optimalisasi Gedung Arsip Nasional dengan banyaknya mata acara (pameran, konser musik, pembuatan film, dan hajatan) menjadikan segala ”kebutuhan” untuk tetap menjaga keasrian dan keasliannya bukanlah hal yang sulit. Bagaimanakah dengan bangunan lainnya? Mampukah disetting seperti Gedung Arsip Nasional?

Semua tergantung kepedulian stakeholders kota. Semoga.

Fx Triyas Hadi Prihantoro, Pemerhati Budaya dan Bangunan Tua

:: Artikel lainnya dari Kliping: Kliping Batavia : Kota Tua


1 2 3 4 5 6 7 8 
No. Tanggal Judul Artikel
12009-09-23Rezeki Lebaran dari Sepeda "Onthel" di Kota Tua
22009-09-09Eigen Hulp, toserba berbasis koperasi
32009-08-29Mal modern menggantikan Gloria?
42009-08-15Jam di Tugu Taman Beos disangka telah hilang
52009-08-12Mendesak, keringanan pajak untuk Kota Tua
62009-08-05Menilik cikal bakal Betawi di galangan kapal
72009-07-08Revitalisasi Kota Tua terkendala pemilik bangunan
82009-07-07Menyingkap misteri bunker di Jakarta
92009-07-03Revitalisasi Kota Tua terus berlanjut
102009-06-27Wisata malam, apa kabarmu?